Meja Redaksi – Ini tulisan pertama Meja Redaksi Tangselupdate.com. Untuk kali pertama ini, kami tergerak menulis setelah menemukan sebuah selebaran yang dibagikan seusai sholat Jum’at di bilangan Benda Baru.
Selebaran itu adalah sebuah buletin berjudul “Buletin Dakwah Kaffah”, dicetak dengan tinta hitam, dengan tulisan Arab berwarna oranye di bagian atas. Kertasnya kira-kira berukuran F4, dilipat dua. Buletin tersebut dibagikan persis setelah sholat Jum’at selesai oleh seorang pria berkaos, di tengah hiruk pikuk jamaah yang sedang mencari sendalnya—di bawah cuaca yang sedang hujan.
Judul buletin edisi 431 itu: “Haram dan Tercela Mendukung Kezaliman Amerika.”
Buletin itu baru sempat dibaca setelah kami sampai di kantor. Yang menarik bukan semata tema yang dibawa, melainkan cara penulis menyajikan pesannya. Gaya bahasanya formal, tetapi tetap cukup ringan untuk dibaca oleh berbagai kalangan.
Isinya menjelaskan bagaimana Amerika, yang sering dinarasikan sebagai penjaga utama demokrasi dan HAM, juga diposisikan sebagai negara agresor. Tulisan itu menyinggung krisis Iran, serta beberapa negara yang pernah menjadi korban agresi “negeri Paman Sam”.
Namun bagian yang nyaris selalu muncul dalam buletin semacam ini tetap hadir di paragraf akhir: tawaran konsep pemerintahan yang dipimpin oleh satu pemimpin yang mereka sebut sebagai “Khilafah.”
Di titik ini, yang lebih menarik untuk dicermati bukan semata isi tulisan atau siapa penulisnya, melainkan konsistensi dan kemasifan gerakan buletin tersebut. Kita sama-sama tahu, organisasi yang dulu menaungi buletin sejenis sudah pernah dibekukan oleh negara. Tetapi kini ia kembali muncul dengan balutan yang mirip: format lama, gaya lama, dan pada akhirnya—pesan yang juga tetap sama.
Memang, pergerakannya tidak semasif pendahulunya yang dulu lebih populer, seperti Al-Islam. Namun cara mereka menyebarkan tetap patut dicatat: metode “jemput bola” yang langsung menyasar jamaah.
Cara lama seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Jika mengingat masa kuliah, banyak kelompok diskusi yang membuat zine dan menyebarkannya dari kantin sampai kelas. Dan tampaknya, cara semacam itu masih dianggap efektif di tengah arus informasi media sosial yang semakin deras.
Peristiwa kecil ini memberi satu pelajaran: arus bawah atau akar rumput masih menjadi target penyebaran informasi. Entah itu untuk tujuan politik, ideologi, maupun sekadar ajakan yang lebih ringan seperti promosi kegiatan.
Karena itu, publik perlu semakin terbiasa menyaring dan membaca lebih dalam setiap informasi yang diterima terlebih ketika informasi itu dibagikan melalui ruang yang sensitif dan dipercaya banyak orang, seperti tempat ibadah.
Disclaimer : Tulisan ini merupakan produk Meja Redaksi Tangsel update, tidak ada tendensi ataupun keberpihakan ke kelompok manapun.


