Kabupaten Bogor – Jagat media sosial dihebohkan dengan beredarnya kabar dugaan fitnah dan tindak kekerasan yang diduga dilakukan oknum aparat terhadap seorang pedagang es kue di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu (24/1/2026).
Korban diketahui bernama Suderajat, pedagang es kue asal Kelurahan Rawapanjang, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.
Ia mengaku menjadi korban tuduhan menggunakan bahan spons pada dagangannya, hingga berujung pada dugaan tindakan kekerasan.
Menurut penuturan Suderajat, peristiwa bermula saat ia berjualan seperti biasa. Ia mengambil stok es dari Depok sekitar pukul 04.00 WIB dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta menuju Manggarai sebelum berjualan di wilayah Kemayoran.
Sesampainya di lokasi, Suderajat melayani seorang pembeli yang belakangan diketahui merupakan oknum aparat. Namun, situasi berubah ketika dagangannya dituding tidak layak konsumsi.
“Awalnya beli es kue, saya belum tahu dia polisi. Terus dagangan saya dibejek-bejek, lalu saya dipanggil dan dibilang ini bukan es, ini es palsu,” ujar Suderajat saat menceritakan kejadian tersebut.
Tak hanya itu, Suderajat mengaku sempat mengalami dugaan kekerasan fisik. Ia menyebut mendapat perlakuan kasar berupa pukulan dan bantingan.
Ia mengatakan hingga kini masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Namun, kondisi ekonomi membuatnya belum dapat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Belum berobat, duitnya nggak ada,” katanya saat ditemui di kediamannya, Selasa (27/1/2026).
Suderajat menuturkan, dirinya telah berjualan es kue selama sekitar 30 tahun untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Pendapatannya pun tidak menentu, berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari, yang hanya cukup untuk kebutuhan makan.
Akibat peristiwa tersebut, Suderajat mengaku sudah empat hari tidak berjualan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia terpaksa berutang ke warung sekitar.
Meski masih ingin kembali berjualan, trauma membuatnya merasa khawatir. Ia berencana untuk berpindah lokasi demi menghindari kejadian serupa.
“Masih mau jualan, tapi takut ditonjok lagi. Jadi was-was. Mau pindah tempat jualan karena khawatir,” ungkapnya.
Kasus ini menuai perhatian warganet dan memunculkan berbagai respons simpati terhadap kondisi Suderajat, yang berharap dapat kembali berjualan dengan aman tanpa tekanan maupun intimidasi.


