KOTA TANGERANG – Sejumlah remaja di RW 08, Kecamatan Periuk, Kelurahan Gebang Raya, Kota Tangerang, memimpin gerakan lingkungan bertajuk Zero Waste Mission melalui kegiatan pilah sampah dan pengembangan pertanian urban, Jumat (31/1/2026).
Gerakan ini muncul sebagai respons atas persoalan lingkungan yang kerap dirasakan warga, mulai dari banjir di beberapa titik Kota Tangerang hingga tumpukan sampah pascahujan yang mengganggu kebersihan lingkungan.
Melalui Gerakan Komunitas Pilah yang terintegrasi dengan Bank Sampah Koalisi Peduli Sampah, warga bersama relawan berhasil mengurangi sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing.
Sejak 2024, sebanyak 3.687 kilogram sampah anorganik berhasil dipilah. Jumlah tersebut meningkat menjadi 4.315 kilogram sepanjang 2025.
Selain pilah sampah, warga juga mengembangkan pertanian urban dengan membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Jagadhita sebagai bagian dari gerakan lingkungan bernama Greenfinity.
KWT Jagadhita saat ini mengelola budidaya berbagai jenis sayuran, seperti cabai, tomat, terong, pakcoy, kangkung, dan kacang panjang, serta mengoperasikan rumah maggot untuk mengolah sampah organik rumah tangga.
Ketua Greenfinity, Rahmat Hidayat, mengatakan program ini berangkat dari kesadaran bahwa sampah rumah tangga, khususnya sampah organik, menjadi salah satu penyumbang masalah lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
“Kalau sampah organik dibiarkan menumpuk, dampaknya bukan cuma bau, tapi juga gas metana yang berbahaya. Karena itu, kami dorong pengelolaan langsung dari rumah tangga,” ujarnya.
Remaja Jadi Motor Penggerak
Dalam program ini, remaja Gen Z berusia 12–18 tahun dilibatkan sebagai Relawan Greenfinity dan menjadi motor penggerak di lingkungan. Para relawan mengikuti pelatihan intensif pada 31 Januari hingga 1 Februari 2026.
Materi pelatihan meliputi pengolahan sampah organik menggunakan komposter dan maggot, pengelolaan sampah anorganik melalui bank sampah, pertanian urban di lahan terbatas, serta pelatihan komunikasi agar mampu mendampingi warga.
Salah satu relawan, Filbert Aisy Nuri, mengaku keterlibatan remaja dalam program ini memberi pengalaman langsung dalam menjaga lingkungan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa peduli lingkungan itu bisa dimulai dari rumah. Sampah yang kami kelola bisa kembali bermanfaat lewat pertanian urban,” katanya.
Setelah pelatihan, para remaja mendampingi warga dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatan pupuk organik. Pupuk hasil olahan sampah rumah tangga dimanfaatkan untuk bedengan pertanian yang berada di fasilitas umum lingkungan RW.
Rahmat menambahkan, gerakan ini diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan baru di masyarakat.
“Target kami bukan hanya lingkungan yang bersih, tapi perubahan pola pikir warga. Melibatkan remaja adalah investasi jangka panjang agar gaya hidup minim sampah bisa terus berlanjut,” pungkasnya.
Program Zero Waste Mission ini melibatkan kolaborasi antara Bank Sampah Koalisi Peduli Sampah, Karang Taruna RW 08, KWT Jagadhita, serta warga RW 08, Kecamatan Periuk, Kelurahan Gebang Raya, Kota Tangerang.


