Tangerang Selatan — Tumpukan sampah yang sempat menggunung di sejumlah pasar tradisional Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai ditangani. Pasar Cimanggis menjadi salah satu lokasi yang telah dilakukan pengangkutan oleh petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH).
Namun, persoalan sampah di wilayah Ciputat belum sepenuhnya selesai dan justru memunculkan sorotan baru terkait praktik buang sampah berbayar.
<span;>Pantauan di lapangan menunjukkan, tumpukan sampah di Pasar Cimanggis telah diangkut pada Rabu malam (7/1/2026).
Pasar ini sebelumnya disebut sebagai salah satu titik terparah dalam kondisi darurat sampah yang melanda Tangsel sejak pertengahan Desember 2025.
<span;>Meski demikian, kondisi berbeda masih terlihat di Pasar Jombang dan Pasar Ciputat.
Di Pasar Jombang, sampah belum sepenuhnya tertangani. Air lindi mengalir hingga ke badan jalan, bau menyengat tercium kuat, lalat beterbangan, dan belatung tampak merayap keluar dari tumpukan.
Sementara di kawasan Ciputat, khususnya di sepanjang Jalan Otista Raya, penumpukan sampah masih terjadi meski volumenya tidak setinggi Pasar Jombang. Bau tak sedap tetap mengganggu aktivitas pedagang dan pengunjung pasar.
Di lokasi ini, warga dan pedagang justru menyoroti adanya praktik buang sampah berbayar. Setiap orang yang membuang sampah disebut harus membayar kepada pihak tertentu yang berjaga, dengan tarif bervariasi mulai Rp2.000 hingga Rp10.000 per sekali buang.
“Kalau buang sampah itu bayar. Ada yang Rp2.000, ada juga Rp5.000 sampai Rp10.000,” ujar Budiman (bukan nama sebenarnya), Kamis (8/1/2026).
Selain pungutan per sekali buang, pedagang kios juga mengaku diwajibkan membayar iuran harian. Namun, kejelasan pengelolaan dana tersebut dipertanyakan.
“Kita pedagang tiap hari ditarik Rp8.000. Tapi setelah itu duitnya ke mana, kita nggak tahu. Sampah tetap numpuk,” kata Budiman.
Ia menilai, setelah pembayaran dilakukan, tidak ada tanggung jawab nyata dari pihak pemungut terhadap pengelolaan sampah.
“Abis bayar, dari mereka enggak ada tanggung jawabnya. Sampah makin banyak, duitnya masuk kantong mereka,” ujarnya.
Pungutan tersebut disebut-sebut untuk kebersihan. Namun kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Sampah terlihat meluber hingga menutup sebagian badan jalan, kondisi yang dinilai melanggar aturan dan membahayakan pengguna jalan.
Keluhan serupa disampaikan Doni Putra (31), pedagang kelapa parut di sekitar lokasi. Ia menyebut, tumpukan sampah tidak hanya berasal dari aktivitas pasar, tetapi juga dari warga luar kawasan yang sengaja datang untuk membuang sampah.
“Ada dari pasar, tapi banyak juga orang luar. Mereka datang, buang sampah, terus bayar ke yang jaga. Biasanya Rp2.000 atau Rp3.000,” kata Doni.
Menurutnya, banyak orang membuang sampah sambil bekerja atau melintas di kawasan tersebut.
“Orang lewat sambil bawa sampah dari rumah, buang ke sini, terus bayar seikhlasnya,” ujarnya.
Doni mengaku para pedagang berada dalam posisi serba sulit karena tempat pembuangan resmi sudah penuh.
“Kita sebagai pedagang bingung mau buang ke mana. Semua sudah penuh,” katanya.


