Tangerang Selatan – Penanganan kasus dugaan kekerasan seksual di SD Negeri Rawabuntu 01 tidak hanya berfokus pada pemulihan korban secara individual.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindik) Kota Tangerang Selatan menilai, pemulihan harus dilakukan secara menyeluruh dengan menyasar ekosistem sekolah agar hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi dalam suasana aman.
Kepala Bidang Sekolah Dasar Dindik Tangsel, Didin Sihabudin, mengatakan data riwayat mengajar terduga pelaku yang telah dikumpulkan akan diolah bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Perlindungan Perempuan dan Anak (DPMP3AKB) melalui Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA).
“Kami melibatkan psikolog profesional agar anak-anak yang terdampak mendapatkan treatment yang tepat. Ini persoalan serius karena menyangkut masa depan anak-anak,” ujar Didin.
Selain pendampingan psikologis, Dindik menyiapkan pendekatan pendukung lain, seperti pelibatan guru kelas terdekat, guru agama, serta program parenting bagi orang tua atau wali siswa.
Pendekatan ini bertujuan memperkuat dukungan psikososial di lingkungan terdekat anak.
Didin menyebut, meskipun kasus mencuat, aktivitas belajar mengajar di SD Negeri Rawabuntu 01 tetap berjalan.
Namun, Dindik melakukan intervensi khusus untuk memastikan situasi sekolah tetap kondusif.
“Kami lakukan pendampingan agar proses belajar mengajar tetap berjalan dalam situasi aman dan terkendali,” katanya.
Sekretaris Dindik Tangsel, R. Billy Sukarsana, menambahkan bahwa pemulihan ekosistem sekolah menjadi bagian penting agar trauma tidak berkembang menjadi masalah jangka panjang.
“Pemulihan ini tidak bisa hanya pada korban. Lingkungan sekolah juga harus dipulihkan supaya tidak ada ketakutan kolektif,” ujar Billy.
Menurut Billy, menjaga stabilitas sekolah merupakan bagian dari perlindungan hak anak atas pendidikan yang aman dan berkelanjutan.


