Tangerang Selatan – Suasana berbeda terlihat di SMKS Nusantara 1 Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Rabu (13/5/2026). Puluhan siswa tampak aktif berdiskusi, memainkan simulasi kasus hingga memerankan korban dan pelaku bullying dalam kegiatan bertajuk Program Speak Up yang digelar mahasiswa Program Studi Hukum Universitas Pamulang (Unpam).
Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang diinisiasi Kelompok 2 Kelas 06 HUKK 003 itu mengangkat isu bullying yang masih kerap terjadi di lingkungan sekolah, baik secara fisik, verbal maupun melalui media sosial.
Berbeda dari sosialisasi pada umumnya, mahasiswa Unpam menggunakan pendekatan partisipatif agar siswa lebih mudah memahami dampak bullying serta berani menyampaikan pengalaman yang pernah dialami atau disaksikan.
Ketua Kelompok PKM, Jack Malcum H.K mengatakan, metode interaktif dipilih supaya siswa tidak hanya mendengar materi, tetapi juga ikut merasakan situasi korban bullying.
“Bullying bukan sekadar candaan atau kenakalan biasa. Ada dampak psikologis bagi korban dan ada konsekuensi hukum bagi pelaku. Karena itu kami ingin siswa berani speak up ketika melihat ataupun mengalami tindakan bullying,” ujar Jack.
Dalam sesi role play, siswa bergantian memerankan korban, pelaku, saksi, guru hingga konselor sekolah. Momen tersebut menjadi perhatian peserta karena dinilai mampu membangun empati terhadap korban bullying.
“Kami sengaja membuat kegiatan yang interaktif supaya siswa tidak bosan. Saat diskusi dan role play, ternyata banyak siswa yang aktif berbicara dan mulai sadar bahwa bullying bisa berdampak serius,” katanya.
Selain simulasi kasus, mahasiswa Unpam juga memaparkan sejumlah aturan hukum terkait perlindungan anak dan penanganan bullying.
Mulai dari Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, UU ITE terkait cyberbullying hingga Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan.
Salah satu siswa peserta kegiatan, Raka mengaku baru menyadari dampak serius bullying setelah mengikuti kegiatan tersebut.
“Selama ini saya pikir bullying cuma urusan bercanda di sekolah. Setelah ikut kegiatan ini saya jadi tahu kalau bullying bisa berdampak besar ke mental korban dan bahkan ada konsekuensi hukumnya,” kata Raka.
Ia menilai simulasi yang dilakukan membuat siswa lebih memahami perasaan korban bullying.
“Waktu simulasi tadi saya jadi bisa membayangkan bagaimana takut dan tertekannya korban bullying. Jadi sekarang kalau ada teman yang dibully saya mau lebih berani bantu dan speak up,” ucapnya.
Sebagai penutup kegiatan, mahasiswa Unpam membagikan buku panduan anti-bullying yang berisi edukasi hukum serta saluran pengaduan bagi siswa.
Program Speak Up menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi Universitas Pamulang melalui edukasi hukum kepada pelajar di Kota Tangerang Selatan.


